Rabu, 04 Agustus 2010

The Last Airbender

Air...
Bumi...
Api...
Udara...
Dahulu kala, keempat negara hidup dalam damai. Tapi semua berubah saat negara Api menyerang. hanya Avatar, penguasa keempat elemen yang dapat menghentikannya. Namun saat dunia membutuhkannya, Avatar menghilang.

Kata2 ini selalu menjadi my second most anticipated opening sequence on TV (The first being "Who lives in a pinapple under the sea...Spongebob Squarepants! Absorbant and yellow n porous is he...Spongebob Squarepants! If nautical nonsense be something u wish...spongebob squarepants! So drop on the deck n flop like a fish........."). Tanpa menghiraukan geleng2 tidak percaya dari orang di rumah, saya akan selalu duduk manis di depan TV setiap pagi sambil berteriak lantang untuk setiap adegan seru dan mengakak habis untuk setiap adegan lucu yang disajikan Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko lewat petualangan Aang, Katara, Sokka, Toph dkk mengelilingi negeri antah berantah di mana sebagian penduduknya memiliki kemampuan mengendalikan salah satu elemen alam.

Begitu tahu bahwa serial kartun ini akan diadaptasi ke layar lebar, lebih hebat lagi dalam format live action, langsung saya mencak2 kegirangan memperagakan jurus2 pengendalian elemen yang sampai ditirukan di slah satu iklan produk jajanan anak (tapi mencak2nya dalam hati aja... ingat umur dong!!hehe).
Tapi begitu tahu sutradara yang akan menahkodai proyek ini M Night Shyamalan, bahana musik yang mengiringi dancing saya di dalam kepala seperti langsung padam. Saya langsung skeptis. It's not that I don't like him. Siapa pun yang pernah menyaksikan The Sixth Sense akan mengakui kehebatan sutradara keturunan india ini. Hanya saja,film itu seprti menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir karyanya yang dipuji setinggi langit. Film2nya kemudian seperti menjadi lubang hitam yang menghisap semua kecemerlangan yang disajikan The SixthSense. The Unbreakable mungkin masih bisa dimaklumi. Signs yang dibintangi Mel Gibson juga oke. Namun The Village seperti menjadi pertanda akan seperti apa film2 Shyamalan berikutnya. Ingat film di mana Bryce Dallas Howard menjadi gadis misterius yang hidup dalam kolam renang? Atau Film di mana Mark Wahlberg melarikan diri dari kejaran angin? Exactly. Nobody does either.

Entah bagaimana caranya Shyamalan berhasil meyakinkan petinggi2 Paramount Pictures untuk mempercayakannya menggawangi proyek $160 juta ini. Padahal film2 shyamalan sebelumnya paling2 hanya berbudget setengah dari itu. Alhasil, it's obvious that the director seems overwhelmed and tidak tahu harus bagaimana memanfaatkan anggaran sebanyak itu. Special effects nya terlihat terlalu gampangan untuk sebuah film summer blockbuster. I mean, this is a movie about people with the ability of bending elements. Jadi saat ada adegan waterbending atau firebending, we expect to see people get wet or burnt. Visual effectnya pun tidak berhasil menerjemahkan dengan baik karakter favorit saya di serial kartunnya: Momo the flying lemur. And I don't even wanna talk about the 3D conversion.

Salah satu kesalahan terbesar Shyamalan yang sebenarnya sudah tampak sejak trailer film ini diluncurkan adalah bahwa ia menanggalkan semua unsur komedi yang terasa sangat kental di serialnya. Tentu saja sulit menerjemahkan satu season serial kartunnya ke dalam durasi 103 menit di layar lebar. But still, the comic relief that mostly Sokka and Aang provide in the series adalah salah satu daya tarik serial ini hingga mampu menjaring penonton dari berbagai kalangan usia di belasan puluhan negara. Skenario yang ditulis sendiri oleh Shyamalan sangat sempit, kaku, dan membosankan.

Soal casting, kontroversi juga sudah merebak sejak para penggemar menyadari bahwa tidak satupun dari karakter utama yang berasal dari Asia . Padahal serial kartunnya jelas2 sangat menonjolkan budaya Asia timur. The Fire Nation identik dengan China. The Earth Kingdom sangat mirip dengan Japan. Bahkan sang tokoh utama Aang dari kelompok biksu Udara jelas2 menggambarkan para biksu di Tibet. But instead of casting Asian kids, syamalan memilih Noah Ringer sebagai Aang, Nicola Peltz sebagai katara, dan Jackson rathbone, si Jasper Cullen dari franchise Twilight sebagai Sokka. Dev Patel sebagai Zuko memang dari India, tapi itupun setelah kesuksesan film yang dibintanginya, Slumdog Millionaire, meraih Oscar dan kebetulan berasal dari negara yg sama dengan Shyamalan.
Jangan harapkan ada penampilan acting yang bagus. Tapi kasihan juga sebenarnya, karena dengan naskah seperti itu, para aktor/aktris memang tidak bisa berbuat banyak.

Sebenarnya, yang namanya film adaptasi pasti tidak akan bisa benar2 memuaskan penggemar dari media aslinya. Buktinya, betapapun dahsyatnya Lord Of The Rings dengan 11 Oscarnya, masih tidak sebanding dengan nikmatnya membaca novelnya. Dan memang Shyamalan bukan Peter Jackson. Tapi justru itu. Sejak filmnya belum dirilis pun, sudah ada indikasi bahwa Shyamalan akan kembali melanjutkan film ini untuk Book Two: Earth dan Book Three: Fire masing2 dengan jadwal 2011 dan 2012. Oh, Dear God!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar