Air...
Bumi...
Api...
Udara...
Dahulu kala, keempat negara hidup dalam damai. Tapi semua berubah saat negara Api menyerang. hanya Avatar, penguasa keempat elemen yang dapat menghentikannya. Namun saat dunia membutuhkannya, Avatar menghilang.
Kata2 ini selalu menjadi my second most anticipated opening sequence on TV (The first being "Who lives in a pinapple under the sea...Spongebob Squarepants! Absorbant and yellow n porous is he...Spongebob Squarepants! If nautical nonsense be something u wish...spongebob squarepants! So drop on the deck n flop like a fish........."). Tanpa menghiraukan geleng2 tidak percaya dari orang di rumah, saya akan selalu duduk manis di depan TV setiap pagi sambil berteriak lantang untuk setiap adegan seru dan mengakak habis untuk setiap adegan lucu yang disajikan Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko lewat petualangan Aang, Katara, Sokka, Toph dkk mengelilingi negeri antah berantah di mana sebagian penduduknya memiliki kemampuan mengendalikan salah satu elemen alam.
Begitu tahu bahwa serial kartun ini akan diadaptasi ke layar lebar, lebih hebat lagi dalam format live action, langsung saya mencak2 kegirangan memperagakan jurus2 pengendalian elemen yang sampai ditirukan di slah satu iklan produk jajanan anak (tapi mencak2nya dalam hati aja... ingat umur dong!!hehe).
Tapi begitu tahu sutradara yang akan menahkodai proyek ini M Night Shyamalan, bahana musik yang mengiringi dancing saya di dalam kepala seperti langsung padam. Saya langsung skeptis. It's not that I don't like him. Siapa pun yang pernah menyaksikan The Sixth Sense akan mengakui kehebatan sutradara keturunan india ini. Hanya saja,film itu seprti menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir karyanya yang dipuji setinggi langit. Film2nya kemudian seperti menjadi lubang hitam yang menghisap semua kecemerlangan yang disajikan The SixthSense. The Unbreakable mungkin masih bisa dimaklumi. Signs yang dibintangi Mel Gibson juga oke. Namun The Village seperti menjadi pertanda akan seperti apa film2 Shyamalan berikutnya. Ingat film di mana Bryce Dallas Howard menjadi gadis misterius yang hidup dalam kolam renang? Atau Film di mana Mark Wahlberg melarikan diri dari kejaran angin? Exactly. Nobody does either.
Entah bagaimana caranya Shyamalan berhasil meyakinkan petinggi2 Paramount Pictures untuk mempercayakannya menggawangi proyek $160 juta ini. Padahal film2 shyamalan sebelumnya paling2 hanya berbudget setengah dari itu. Alhasil, it's obvious that the director seems overwhelmed and tidak tahu harus bagaimana memanfaatkan anggaran sebanyak itu. Special effects nya terlihat terlalu gampangan untuk sebuah film summer blockbuster. I mean, this is a movie about people with the ability of bending elements. Jadi saat ada adegan waterbending atau firebending, we expect to see people get wet or burnt. Visual effectnya pun tidak berhasil menerjemahkan dengan baik karakter favorit saya di serial kartunnya: Momo the flying lemur. And I don't even wanna talk about the 3D conversion.
Salah satu kesalahan terbesar Shyamalan yang sebenarnya sudah tampak sejak trailer film ini diluncurkan adalah bahwa ia menanggalkan semua unsur komedi yang terasa sangat kental di serialnya. Tentu saja sulit menerjemahkan satu season serial kartunnya ke dalam durasi 103 menit di layar lebar. But still, the comic relief that mostly Sokka and Aang provide in the series adalah salah satu daya tarik serial ini hingga mampu menjaring penonton dari berbagai kalangan usia di belasan puluhan negara. Skenario yang ditulis sendiri oleh Shyamalan sangat sempit, kaku, dan membosankan.
Soal casting, kontroversi juga sudah merebak sejak para penggemar menyadari bahwa tidak satupun dari karakter utama yang berasal dari Asia . Padahal serial kartunnya jelas2 sangat menonjolkan budaya Asia timur. The Fire Nation identik dengan China. The Earth Kingdom sangat mirip dengan Japan. Bahkan sang tokoh utama Aang dari kelompok biksu Udara jelas2 menggambarkan para biksu di Tibet. But instead of casting Asian kids, syamalan memilih Noah Ringer sebagai Aang, Nicola Peltz sebagai katara, dan Jackson rathbone, si Jasper Cullen dari franchise Twilight sebagai Sokka. Dev Patel sebagai Zuko memang dari India, tapi itupun setelah kesuksesan film yang dibintanginya, Slumdog Millionaire, meraih Oscar dan kebetulan berasal dari negara yg sama dengan Shyamalan.
Jangan harapkan ada penampilan acting yang bagus. Tapi kasihan juga sebenarnya, karena dengan naskah seperti itu, para aktor/aktris memang tidak bisa berbuat banyak.
Sebenarnya, yang namanya film adaptasi pasti tidak akan bisa benar2 memuaskan penggemar dari media aslinya. Buktinya, betapapun dahsyatnya Lord Of The Rings dengan 11 Oscarnya, masih tidak sebanding dengan nikmatnya membaca novelnya. Dan memang Shyamalan bukan Peter Jackson. Tapi justru itu. Sejak filmnya belum dirilis pun, sudah ada indikasi bahwa Shyamalan akan kembali melanjutkan film ini untuk Book Two: Earth dan Book Three: Fire masing2 dengan jadwal 2011 dan 2012. Oh, Dear God!
Khalisination
Rabu, 04 Agustus 2010
Kamis, 29 Juli 2010
SALT
Siapa aktris Hollywood yang identik dengan peran2 kick-ass female? Mila Jovovich boleh bangga dengan 3 kali memerankan Alice, wanita pembasmi zombie di adaptasi game RESIDENT EVIL (jilid keempatnya akan menyusul September nanti). Uma Thurman juga sudah pernah membantai 88 orang sekaligus di klimaks KILL BILL Part 1 dan bahkan menghancurkan jantung David Carradine dengan sekali jurus di Part 2. Di televisi, Jennifer Garner bertahan 5 tahun memerankan agen mata-mata CIA yang menguasai bela diri Krav Maga, berbicara lebih dari 30 bahasa (termasuk Bahasa Indonesia lho..), dan berganti2 ratusan penampilan mengelilingi dunia. Tapi jawaban dari pertanyaan tadi hanya satu. Angelina Jolie. Bayangkan jika Lara Croft (TOMB RAIDER, TOMB RAIDER: THE CRADLE OF LIFE), Jane Smith (MR & MRS SMITH) atau Fox (WANTED) diperankan oleh aktris selain Jolie. Ugh...Kharisma tangguh Jolie bahkan terasa tanpa perlu berakting sama sekali. Cukup dengan meminjamkan suaranya sebagai Tigress di animasi KUNG FU PANDA.
Sekarang, Jolie kembali membuktikan bahwa gelar The sexiest Lips and eyes yang disematkan padanya tidaklah lantas membuatnya ragu melompat di atas kendaraan yang melaju atau menembakkan senjata, atau menghajar siapa saja yang menentangnya. Lewat peran Evelyn Salt dalam film terbarunya ini, Jolie bahkan berhasil lolos dari tahanan CIA, "membunuh" presiden Rusia, meledakkan markas rahasia mata2 Rusia sampai membobol White House hingga ke bunker perlindungan presiden 8 tingkat di bawah tanah dalam rangka membersihkan namanya dari tuduhan sebagai mata2 rusia yang disisipkan ke CIA.
Lupakan soal jalan cerita. Sebagai film blockbuster musim panas yang memang ditujukan untuk menghibur, SALT tidak akan menghadirkan plot serumit INCEPTION. Meskipun penonton sempat dibawa bingung siapa Salt sebenarnya, di mana letak kesetiaannya, namun twistnya tidaklah sulit ditebak. Masalahnya, memang tidak banyak variasi yang bisa ditawarkan film-film action-thriller on the run seperti ini. Kita akan diperkenalkan pada tokoh utama yang simpatik, yang harus meninggalkan seluruh kenyamanan hidupnya untuk membersihkan namanya sambil berupaya melindungi orang-orang terdekatnya. Lalu sebagai twist menjelang ending diketahui bahwa ternyata yang berada di balik semuanya adalah orang yang paling tidak terpikirkan. Pola ini pun diterapkan di SALT.
Namun lubang menganga yang ada di skenario akan dapat terabaikan berkat kegemilangan bintang Jolie. Sejak awal film ini memang seolah hanya menjual nama Jolie seorang. Lihat saja teaser posternya yang tidak menampilkan hal lain selain wajah Jolie yang di-close up dengan tagline "Who Is Salt". Awalnya naskah SALT ditulis untuk Tom Cruise dengan peran sebagai Edwin Salt, namun karena Cruise merasa karakter ini mengulang perannya sebagai mata-mata di franchise MISSION IMPOSSIBLE, peran ini lalu ditawarkan ke Jolie setelag ditulis ulang dengan mengganti jenis kelamin tokoh utamanya. Dan pilihan ini terbukti tidak salah. Adegan saat Salt harus menyaksikan orang terdekatnya ditembak mati tidak akan memberikan kedalaman yang sama jika ditampilkan oleh seorang pria. Namun Jolie benar-benar memukau. Di saat yang sama dia mampu menampilkan muka sedingin es sambil tetap memperlihatkan pada penonton penderitaan batin yang dialaminya. Belum lagi seluruh adegan laga yang dilakukan tanpa pemeran pengganti. Benar-benar hardcore badass chick!
Sekarang, Jolie kembali membuktikan bahwa gelar The sexiest Lips and eyes yang disematkan padanya tidaklah lantas membuatnya ragu melompat di atas kendaraan yang melaju atau menembakkan senjata, atau menghajar siapa saja yang menentangnya. Lewat peran Evelyn Salt dalam film terbarunya ini, Jolie bahkan berhasil lolos dari tahanan CIA, "membunuh" presiden Rusia, meledakkan markas rahasia mata2 Rusia sampai membobol White House hingga ke bunker perlindungan presiden 8 tingkat di bawah tanah dalam rangka membersihkan namanya dari tuduhan sebagai mata2 rusia yang disisipkan ke CIA.
Lupakan soal jalan cerita. Sebagai film blockbuster musim panas yang memang ditujukan untuk menghibur, SALT tidak akan menghadirkan plot serumit INCEPTION. Meskipun penonton sempat dibawa bingung siapa Salt sebenarnya, di mana letak kesetiaannya, namun twistnya tidaklah sulit ditebak. Masalahnya, memang tidak banyak variasi yang bisa ditawarkan film-film action-thriller on the run seperti ini. Kita akan diperkenalkan pada tokoh utama yang simpatik, yang harus meninggalkan seluruh kenyamanan hidupnya untuk membersihkan namanya sambil berupaya melindungi orang-orang terdekatnya. Lalu sebagai twist menjelang ending diketahui bahwa ternyata yang berada di balik semuanya adalah orang yang paling tidak terpikirkan. Pola ini pun diterapkan di SALT.
Namun lubang menganga yang ada di skenario akan dapat terabaikan berkat kegemilangan bintang Jolie. Sejak awal film ini memang seolah hanya menjual nama Jolie seorang. Lihat saja teaser posternya yang tidak menampilkan hal lain selain wajah Jolie yang di-close up dengan tagline "Who Is Salt". Awalnya naskah SALT ditulis untuk Tom Cruise dengan peran sebagai Edwin Salt, namun karena Cruise merasa karakter ini mengulang perannya sebagai mata-mata di franchise MISSION IMPOSSIBLE, peran ini lalu ditawarkan ke Jolie setelag ditulis ulang dengan mengganti jenis kelamin tokoh utamanya. Dan pilihan ini terbukti tidak salah. Adegan saat Salt harus menyaksikan orang terdekatnya ditembak mati tidak akan memberikan kedalaman yang sama jika ditampilkan oleh seorang pria. Namun Jolie benar-benar memukau. Di saat yang sama dia mampu menampilkan muka sedingin es sambil tetap memperlihatkan pada penonton penderitaan batin yang dialaminya. Belum lagi seluruh adegan laga yang dilakukan tanpa pemeran pengganti. Benar-benar hardcore badass chick!
INCEPTION
I don't even know where to begin... Am I dreaming or am I actually writing this note?
Best Movie of 2010 so far, tapi melihat daftar film2 summer lain yang masih mengantri, sepertinya gelar ini memang sudah selayaknya disematkan saja ke INCEPTION.
Dalam pengalaman pertamanya menangani film fiksi ilmiah, Christopher Nolan mengajak Leonardo DiCaprio memerankan tokoh ......tidak penting menceritakan tentang apa sebenarnya film ini. Bahkan jika ending-nya dibocorkan, kau akan tetap harus menontonnya untuk mengetahui bagaimana ceritanya bisa sampai ke sana. Lalu mungkin membahasnya dengan teman2, mungkin sambil makan-minum ringan yang dingin2 untuk mengistirahatkan otak, lalu menontonnya lagi. Lalu merencanakan untuk menontonnya lagi. Dan lagi.
Inilah ilm yang jelas-jelas akan membuatmu kecewa jika hanya datang untuk menyaksikan bagaimana anak muda yang 12 tahun lalu berdiri di teralis depan kapal TITANIC sambil berteriak "I am the King Of The Woooooorld....!!!" melakukan aksi laga spionase. Lupakan Jack Dawson, sang pelukis miskin yang menaklukkan Rose Dewitt Buckateer. Meet Dom Cobb, the most skilled extractor, yang bisa mencuri rahasia terdalam dari alam bawah sadarmu, yang menerima tantangan melakukan the impossible: menanamkan ide seolah datang dari pikiranmu sendiri. INCEPTION.
Christopher Nolan, sutradara yang paling diakui di Hollywood setelah kesuksesannya membesut The Dark Knight dua tahun lalu semakin mengukuhkan predikatnya dengan film ini. Film yang rumit, kompleks dan penuh kejutan, namun yang mengagumkan lagi adalah Nolan berhasil membimbing kita memahami setiap lapis demi lapis demi lapis demi lapis demi lapis film ini tanpa membuat penonton merasa digurui sama sekali. Semua misteri yang ditampilkan trailernya, dari lanskap kota paris yang bergulung, kereta api melesat di tengah lalu lintas, Dom dan Ariadne yang duduk tenang berbicara di kafe selagi sekeliling mereka hancur berkeping2, adegan pertarungan di ruang tanpa gravitasi, diberikan penjelasan yang masuk akal. Sampai-sampai, alasan penggunaan Boeing 747 pun ikut dibeberkan. Sungguh keterlaluan rasanya jika setelah keluar dari teater kau masih bingung dengan 147 menit yang baru saja lewat.
Dengan suguhan visual yang begitu mengagumkan, apalagi dengan iringan music score yang sedemikian membahana dari Hans Zimmer, Inception menjadi film yang sangat menyita konsentrasi. Bahkan segmen drama yang ditampilkan untuk menggali karakter Cobb tidak menjadi membosankan lantaran sejak awal Nolan telah menanamkan pertanyaan yang tepat di benak penonton dan menjawabnya dengan sangat rapi.
Di tengah kemarau ide yang melanda Hollywood dengan suguhan film-film remake, reboot, adaptasi komik, novel, serial TV, games dll, Nolan berhasil menyuguhkan kesegaran yang memang alot, sulit dicerna, namun begitu tertelan sungguh mengenyangkan dan memabukkan.
Best Movie of 2010 so far, tapi melihat daftar film2 summer lain yang masih mengantri, sepertinya gelar ini memang sudah selayaknya disematkan saja ke INCEPTION.
Dalam pengalaman pertamanya menangani film fiksi ilmiah, Christopher Nolan mengajak Leonardo DiCaprio memerankan tokoh ......tidak penting menceritakan tentang apa sebenarnya film ini. Bahkan jika ending-nya dibocorkan, kau akan tetap harus menontonnya untuk mengetahui bagaimana ceritanya bisa sampai ke sana. Lalu mungkin membahasnya dengan teman2, mungkin sambil makan-minum ringan yang dingin2 untuk mengistirahatkan otak, lalu menontonnya lagi. Lalu merencanakan untuk menontonnya lagi. Dan lagi.
Inilah ilm yang jelas-jelas akan membuatmu kecewa jika hanya datang untuk menyaksikan bagaimana anak muda yang 12 tahun lalu berdiri di teralis depan kapal TITANIC sambil berteriak "I am the King Of The Woooooorld....!!!" melakukan aksi laga spionase. Lupakan Jack Dawson, sang pelukis miskin yang menaklukkan Rose Dewitt Buckateer. Meet Dom Cobb, the most skilled extractor, yang bisa mencuri rahasia terdalam dari alam bawah sadarmu, yang menerima tantangan melakukan the impossible: menanamkan ide seolah datang dari pikiranmu sendiri. INCEPTION.
Christopher Nolan, sutradara yang paling diakui di Hollywood setelah kesuksesannya membesut The Dark Knight dua tahun lalu semakin mengukuhkan predikatnya dengan film ini. Film yang rumit, kompleks dan penuh kejutan, namun yang mengagumkan lagi adalah Nolan berhasil membimbing kita memahami setiap lapis demi lapis demi lapis demi lapis demi lapis film ini tanpa membuat penonton merasa digurui sama sekali. Semua misteri yang ditampilkan trailernya, dari lanskap kota paris yang bergulung, kereta api melesat di tengah lalu lintas, Dom dan Ariadne yang duduk tenang berbicara di kafe selagi sekeliling mereka hancur berkeping2, adegan pertarungan di ruang tanpa gravitasi, diberikan penjelasan yang masuk akal. Sampai-sampai, alasan penggunaan Boeing 747 pun ikut dibeberkan. Sungguh keterlaluan rasanya jika setelah keluar dari teater kau masih bingung dengan 147 menit yang baru saja lewat.
Dengan suguhan visual yang begitu mengagumkan, apalagi dengan iringan music score yang sedemikian membahana dari Hans Zimmer, Inception menjadi film yang sangat menyita konsentrasi. Bahkan segmen drama yang ditampilkan untuk menggali karakter Cobb tidak menjadi membosankan lantaran sejak awal Nolan telah menanamkan pertanyaan yang tepat di benak penonton dan menjawabnya dengan sangat rapi.
Di tengah kemarau ide yang melanda Hollywood dengan suguhan film-film remake, reboot, adaptasi komik, novel, serial TV, games dll, Nolan berhasil menyuguhkan kesegaran yang memang alot, sulit dicerna, namun begitu tertelan sungguh mengenyangkan dan memabukkan.
Langganan:
Postingan (Atom)